SUARA JERNIH DARI CIKINI

sumber: http://dkj.or.id/pidatokebudayaan/

Pidato Kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merupakan pro­g­ram tahunan DKJ bersama Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Tradisi yang diselenggarakan sejak 1989 sebagai bagian pe­rayaan ulang tahun TIM ini, setiap tahun mengundang tokoh nasional untuk mengupas persoalan penting dan aktual. Para pembi­cara berusaha menjawab tantangan yang tengah melanda bangsa Indonesia dengan pemikiran-pemikiran jernih dari perspektif kebudayaan.

Pada kurun 1989-1996, misalnya, ekses negatif dari liberalisasi dan deregulasi yang dilakukan sejak 1980-an mulai terasa. Modernisasi yang datang bersama keterbukaan mengakibatkan kebudayaan daerah terpinggirkan dan pembangunan terpusat di Pulau Jawa. Modernisasi juga me­munculkan pola hidup konsumtif dan mengakibatkan kerusakan lingku­ngan. Umar Kayam (1989), Emil Salim (1991), B.J. Habibie (1993), Mochtar Kusumaatmadja (1994), dan Fuad Hassan (1995) mengusulkan relasi-relasi baru yang menghubungkan daerah-pusat, tra­disi-modernisasi, dan budaya-teknologi. Sementara Ginanadjar Kar­ta­sasmita (1996) dan Ali Sadi­kin (1999) menawarkan gagasan good go­vernment dan partisipasi publik untuk memperbaiki keadaan.

Menjelang dan setelah reformasi, tokoh yang aktif menentang Orde Baru seperti Rendra (1997), Amien Rais (1998), Ali Sadikin (1999), dan Todung Mulya Lubis (2000, 2003) –selain juga Sri Sultan Hamengkubuwono (2002)– mendapat kesempatan menguraikan gagasan-gagasannya dalam bidang kebudayan dan hukum/HAM untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Sementara persoalan-persoalan baru yang muncul di era reformasi berusaha dijawab dengan argumentasi berbasis moral oleh Ayzyumardi Azra (2001), Hidayat Nur Wahid (2004). Ahmad Syafii Maarif (2005), Zawawi Imron (2007),  Busyro Muqqodas (2011), dan Mahfud MD (2012).

Dua pembicara, Herry Priyono (2006) dan I Gusti Agung Ayu Ratih (2008), melihat kebuntuan demokrasi sebagai persoalan utama kita saat itu. Dua lainnya, Ignas Kleden (2009) dan Rocky Gerung (2010), mengusulkan gagasan untuk memperkuat ruang privat dan ruang publik. Sebelumnya, Karlina Supeli (2013) memprioritaskan delapan siasat untuk mentransformasikan kebiasaan-kebiasaan publik sebelum mewanacakan peta besar atau strategi kebudayaan tertentu. Dan Hilmar Farid (2014) mengajak kita melihat sejarah sebagai kritik.

Praktis selama lebih dari dua dekade Pidato Kebudayaan DKJ senantiasa melantunkan suara-suara jernih dari Cikini. Pemikiran-­pe­mikiran yang selama ini melintas di ruang-ruang penyelenggaraan Pidato Kebudayaan DKJ sangat bernilai buat direnungkan, dan harus diberi banyak kaki –disebarluaskan kepada siapa pun yang masih mencintai negeri ini– agar memberi kemanfataan bagi kemajuan kehidupan dan peradaban kita.

#SUARAJERNIHDARICIKINI

PIDATO KEBUDAYAAN DEWAN KESENIAN JAKARTA 2015
SELASA, 10 NOVEMBER 2015